Gimana sih
rasanya kehilangan sendal jepit?, parahnya lagi jika kejadian itu di sebuah
tempat ibadah. Nah! Saya punya pengalaman kelam dengan benda yang drajatnya
sehari-hari kita injak sendal jepit. Di daerah asal saya “Lindajang”
sewaktu sedang tarawih di mesjid Nurul Iman, letak mesjid yang tak jauh
dari rumah, saya dan anak-anak sebayaku lainnya, lepas berbuka puasa kami
biasanya ngumpul di salah satu titik temu, sebut saja depan rumah salah satu dari
kami. Sebab kami tak berani jika harus menempuh jalan krikil berbatu dengan
jalan sendiri-sendiri, alasannya jelas! Lampu penerangan jalan belumlah
memadai, hanya mengandalkan cahaya Bohlam
teras rumah warga, bahkan sampai sekarang itupun belum terealisasikan dengan
sebuah predikat Kecamatan yang belum lama ini resmi menjadi Kecamatan Suli
Barat... Entah kapan itu bisa kami nikmati
Saat saya
masih kecil, yang namanya kelangan sandal ketika sholat tarawih adalah hal
lumrah. Mengingat sholat tarawih pesertanya mbludag, dan seringkali yang
hadir tidak hanya yang biasa ke mesjid tapi juga yang sama sekali gak pernah
ngambah mesjid. Biasanya memang yang gak pernah ngambah mesjid dari kalangan
anak-anak adalah mereka yang sekedar pingin menjadi “Jaburan Hunter”
atau “Sendal Jepit Changer”.
Jaburan Hunter adalah kalangan anak-anak yang hadir ke mesjid sekedar mengejar hidangan penghibur saat tarawih yang masyhur disebut “jaburan”. Sedangkan Sendal Jepit Changer adalah kalangan anak-anak yang hadir untuk sekedar cari-cari sendal bagus buat dituker dengan sendalnya yang bulukan. Mereka ini sungguh-sungguh mengamalkan nasehat “Tinggalkan yang buruk, ambil yang baik!”
Jaburan Hunter adalah kalangan anak-anak yang hadir ke mesjid sekedar mengejar hidangan penghibur saat tarawih yang masyhur disebut “jaburan”. Sedangkan Sendal Jepit Changer adalah kalangan anak-anak yang hadir untuk sekedar cari-cari sendal bagus buat dituker dengan sendalnya yang bulukan. Mereka ini sungguh-sungguh mengamalkan nasehat “Tinggalkan yang buruk, ambil yang baik!”
Walhasil, kalangan Sendal Jepit
Changer ini senantiasa membuat saya was-was
jika hendak menaruh sandal di pintu masuk masjid. Apalagi jika sandal jepitnya
baru dan agak bermerk, semisal Swallow, ini
merk sandal jepit kawentar di jaman saya.
Jika sudah begitu sandal jepit pastilah dibongkok wal diikat, lalu ditaruh di tempat tersembunyi.
Efek samping kelakuan para sandal
jepit changer ini cukup mengganggu. Sholat tarawih yang harusnya khusyuk
berubah menjadi suasana was-was. Walaupun sudah dibongkok dan ditaruh di tempat
tersembunyi, tetap terpikir, “matemi pa’de omi te’ sandala’e”. (Jangan-jangan ketahuan dan diambil).
Sebenarnya kehilangan terbesar dari
kejadian kelangan sandal jepit ini bukanlah nilai sandal jepitnya. Kalau
dikalkulasi, nilai sandal jepitnya sendiri tak cukup mahal untuk dibeli.
Kehilangan terbesar dari peristiwa tersebut adalah “Kehilangan Rasa Aman”.
Rasa aman ini tak bisa dibeli. Satu
negeri yang rasa amannya tercabut akan diliputi kekhawatiran dan ketakutan.
Tercabutnya rasa aman adalah bentuk adzab yang dikirim Allah. Musuh-musuh
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengalami hal ini. Walaupun
jumlah dan kekuatan mereka cukup bisa membuat mereka disebut adikuasa atau
adidaya, namun Allah kirim rasa takut dan khawatir pada mereka sebulan sebelum
muslimin masuk wilayah mereka. Rasa aman adalah hal pertama yang dicabut Allah
saat hendak membinasakan orang kafir.
Jangankan di
Negeri ini, di tempat kelahiran saya “Lindajang,Suli dan sekitarnya” pencurian, perampasan, pemalakan, pembalakan, sampai
penggaglakan paksa dilakukan dengan derajat tahu sama tahu. Sebenarnya tanpa harus
mendatangkan bukti pun, pak pulisi dan jaksa juga tahu, bahwa orang dengan
jabatan tertentu pastilah sulit untuk dikatakan tidak nyolong hingga terbukti
sebaliknya. Kelakuan ini mencabut rasa aman semua orang. Apalagi orang-orang
tersebut tak pernah dihukum dengan pantas. Jangankan dihukum, ditangkap saja
tidak mengingat ini adalah Negara hukum. Dan sebelum nyolong memang orang harus
paham hukum agar bisa berkelit dan nyolongnya tak dikenai pasal hukum.
Saat rasa aman ini tercabut,
dimana-mana yang ada adalah rasa takut dan khawatir. Di jalan, di tempat kerja,
di tempat hiburan, dan juga bahkan di tempat ibadah. Orang jual beli tak lagi
aman. Berurusan dengan apapun tak aman. Naruh mobil, motor bahkan onthelpun tak
lagi aman. Bahkan sekedar diambil sampahnya pun tak lagi aman, ketika pandangan
penuh curiga dialamatkan pada pemulung yang diantaranya terdapat oknum yang
pernah khianat.
Aman dan iman adalah dua hal yang
berhubungan. Saat tak ada iman, akan muncul tindakan orang-orang yang mencabut
rasa aman. Rasa aman akan diturunkan Allah ke tengah-tengah penduduk negeri,
saat penduduk negeri itu menghadirkan perilaku iman. Perilaku yang terjaga
dengan iman mencegah orang melakukan hal-hal tercela yang berakibat tercabut
rasa aman.
Sayangnya pembahasan tentang
pentingnya iman tak lagi gencar. Orang sibuk membuat pagar-pagar yang
mengandalkan pengawasan manusia. Selain tak murah, manusia masih bisa dibeli,
yang berakibat sang pengawas dan yang diawasi bergotong royong merobohkan rasa
aman.
Tanpa
basa-basi: mari kita gencarkan bicara
pentingnya iman. Dan tentu saja iman yang diikuti amal sholeh. Dengan itu
Allah akan turunkan keamanan dan rasa aman. Siapa sih yang merasa tidak aman
saat yang menjaga adalah Allah?
“Jagalah
Allah, niscaya Allah akan menjagamu…..!” demikian potongan nasehat Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam.
TMP. 15A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar