Dear S..,
Terkadang
aku masih merindukan saat-saat itu. .
bermimpi kembali ke masa itu.
bercanda, tertawa, menangis, berbagi
cerita bersamamu,
atau mungkin hanya memandangimu dari
kejauhan sambil menanti terbitnya senyum mungilmu.
Iya
aku tau, aku hanya seorang pemimpi.
seorang lelaki bodoh yang terus
terikat masalalu
mungkin juga sombong karena tak pernah mengambil tiap kesempatan yang ada.
tapi yakinlah, bukan itu yang kumau.
aku
tak bias, walau sekedar menggenggam tangan kecilmu.
sepertimu yang
lebih memilih menarik kuping ku jika ingin memberitahuku sesuatu.
Aku
sendiri tak yakin tentang perasaan ini.
terkadang kau terlihat bagai
malaikat penolong,
bintang kecil,
seorang teman kebanyakan,
cewek sok kuat dan
menyebalkan,
bahkan balita yang
perlu dibantu untuk membuat segelas susu.
Sadarkah
Kau jika dua tahun
hidupku hanya kuhabiskan untuk mengeja namamu?
sifat sok bandel dan baju
amburadulku, boneka gantungan kunciku,Bandara pun ikut bicara, tentang
terakhirku meliahtmu
Kesiasiaan?
tidak juga.
paling tidak dengan
semangat itu aku bisa
menjadi “seseorang”.
Dan jika sekarang aku mulai mengenang kembali waktu itu,
ada senyum di sana,
tentang romantisme masa itu yang tak tergantikan,
tentang sebuah semangat yang berkobar hanya dari
sms-sms yang kau kirimkan,
tentang semuanya.
walau ada juga perih terselip,
itu biasa. .
Mungkin
ini adalah tulisan terakhirku tentang masalalu bodohku.
bersamaan dengan tulisan ini, aku akan mulai mencoba menatap masa depanku sendiri.
aku tak peduli akan sejelek apa
imejku dimatamu nanti.
mungkin juga kemungkinan catatan ini dibaca oleh
orang lain yang tak berhak.
Aku mencoba untuk
tidak peduli.
Selamat datang, masa depanku. . .
terimakasih buat kenangan dan masa lalu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar