Cari Blog Ini

Senin, 03 Oktober 2011

Mimpi Terindah ku



Epriel Fajar Sinae in memorian

Semasa hidupnya ia tumbuh dan besar dalam keluarga dengan dedikasi yang penuh dengan kekeluargaan layaknya seperti keluarga besar kebanyakan, tiba suatu ketika ia demam ringan, bukanlah pertama kali baginya, sebab seperti demam biasa jadi keluarga tak terlalu cemas, namun tiga hari demamnya pun tak surut kecemsan pun menyelimuti seluruh anggota keluarga. Tanpa piir panjang sang Ayah pun merujuknya ke Rumah Sakit terdekat. Namun rumah sakit yang dituju malah menganjurkan untuk membawanya ke Rumah Sakit yang lebih besar dengan segala fasilitas yang memadai, lekas pun salah satu dari rombongan keluarga yang mengantarnya memberikan pandangan nya, dan pendapatnya tertuju pada sebuah Rumah Sakit Umum Islam yang terletak di Jl. Cempaka Putih jakarta pusat.

Dari situlah tim Dokter yang menanganinya memberinya Vonis bahwa ia Diagnosa Kanker Otak.
Eryl, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dan menghalangiku berkata sepata kata tengtang kematian dengan cara mengalihkan setiap pembicaraan kami. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi candaan seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.

Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.

NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang
lelaki renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian sodara sepupu ku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.

“Eryl berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Sepupuku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?

Aku melihat lagi gambaran ketika
Sepupuku meninggalkanku dan semua keluarga yang mecintainya. "Eryl harus ke luar negeri," kata sepupuku pada suatu malam.

"Untuk apa?" Tanya
sang Ayah
"Untuk
sekedar jalan-jalan," sahut sepupuku. "Eryl janji tidak akan pergi lama. Ibu bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa Ibu sadari, Eryl sudah akan kembali di sini, bersama kalian keluargaku yang aku sayangi"

A
yah memasang wajah tak percaya, "Eryl janji?"
Eryl mengangguk mantap. Ibu nya tersenyum melihat tingkahnya. Dan ayah mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.

Selanjutnya,
Ibu disibukkan dengan mencoreti kalender milikn ayahnya. Tetapi Eryl pergi begitu lama. Sampai Ibu kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta Eryl. Ibu mulai menangis dan marah pada Ayahnya, juga semua orang. Tubuhnya melemah karena Ibu selalu menolak makanan bahkan minuman. Ibu enggan bicara, termasuk pada teman sepermainannya Hilal adalah sepupuku dan sepupu Eryl. Sampai suatu hari ibu mengatakan kalau Eryl sepupuku tidak akan pulang lagi. "Eryl anakku kau sudah terbang ke surga," katanya.

Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.

Bayangan
sepupuku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.

Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada
sepupuku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa Eryl sepupuku ada di sana?"

"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat
Eryl sepupumu. Karena kau akan tersesat."

"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana
sepupumu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"

Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.

"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti
sepupuku Eryl? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu
sepupuku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"
Akan ada yang bersedih jika kau meninggalkan dunia ini," jawab laki-laki itu.

"Jangan beritahu
mereka kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan tante ku padaku dulu, ketika Eryl meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan
sepupumu, Eryl?"

Aku terhenyak.
Eryl? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa
Eryl akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok
Eryl sepupuku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku,
dan sepupuku Eril, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.

AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Ka
lian takkan percaya, aku bertemu sepupuku dalam mimpiku.

Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau,
Eryl selalu saja mengunci mulutku dan menghalangiku berkata sepata kata tengtang kematian. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, lihat! Sepupuku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.

Di belakangku,
Eryl merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Eryl. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?

Aku tak bisa memilih. Antara
lelaki itu dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.

Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.

Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba
mereka kawan-kawan ku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara Eryl menangis di pelukan ibunya, di ujung pembaringannya. Dokter mencabut selang infuse yang melekat pada Eryl. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukanmu, Eryl." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. ***

kudedikasikan untuk EFRIEL FAJAR SINAE, semoga Sgala Amal ibadahmu di terima di sisinya (Amien)

1 komentar: