Road To Bone 7 – 9 Oktober 2011
untuk B’Zhink
Usai briefing dan langsung brangkat ke Kab. Bone melalui jalur darat Makassar - Maros, Maros - Camba, Camba - Bone...
|
Brunch di Camba (Makan Pagi + Istirahat Di Camba)
Camba adalah salah satu wilayah di
tengah-tengah Kabupaten Maros. Camba berkontur perbukitan karst, hutan yang
lebat, dan wilayah yang masih asri dan sejuk. Camba dikenal juga sebagai jalur
lintas tengah Sulawesi Selatan yang menghubungkan Soppeng dengan Makassar.
Jalur masuk untuk masuk dan keluar dari Camba berkelok-kelok tajam, curam dan
sempit. Anda wajib berhati-hati berkendara di tempat ini, sering kali terjadi
sebuah truk terperosok masuk ke dalam jurang yang banyak terdapat di kawasan
ini. Anda akan mencapai Camba begitu melewati wilayah Bantimurung. Dari
Makassar, Camba kurang lebih dapat ditempuh dalam waktu 1 jam kalau ngebut,
atau 1,5 jam dengan angkutan umum, kurang lebih begitu yang saya ketahui dari sumber seorang kawan serumah kami di Jl. Taman Makam Pahlawan / 15.A atau yang lebih di kenal dengan; TMP15.A
Traveling dengan kendaraan roda dua ternyata cukup
mengasyikkan juga, walaupun selalu harus terkendala dengan cuaca Panas/Hujan,
tapi hal tersebut merupakan tantangan tersendiri bagaimana mengatasi/mensikapi
dan menyiasati fenomena alam tersebut. Dengan menggunakan kendaraan roda dua
ternyata jarak pandangan kesekeliling sangat luas terutama bisa berhenti di
sembarang tempat demi menikmati pemandangan alam yang ada. Tanggal 7 Oktober
2011 pukul 8:00 wita, perjalanan dimulai dari Kota Makassar menuju Kab.Bone melalui Jalur Camba Kabupaten Maros; disini
pemandangan alam pegunungan, persawahan dan perkampungan sungguh sangat luar
biasa, seakan membentuk 3D
Satu hal yang paling diunggulkan
Camba adalah Kebun Raya Camba. Sayang, saya dan kawan-kawan tak menyempatkan diri untuk mampir, meski saya dan kawan-kawan Rolling menggunakan sepeda motor, tapi berhubung waktu kami terbatas, dan harus cepat-cepat untuk sampai di Kab. Bone sehingga nggak
mungkin banget berhenti di tempat ini untuk bermain-main. Saya berhenti di
Camba hanya untuk makan pagi menjelang siang. Rumah Makan Camba 27 ini terletak
di dataran Camba, wilayah luas datar setelah saya menempuh kelok-kelokan yang
membuat perut saya bergejolak. Hehehe. Nggak ada makanan yang benar-benar
spesial sich di tempat ini. makanan yang tersedia hanyalah mie goreng, gogos (nasi ketan yang di panggang), telor rebus, telor asin, indomie. Cukup standard yach?. Saya iseng-iseng bertanya, ada sop saudara atau nggak, sayangnya
tidak ada. Perut saya masih agak bergejolak, mulut saya masih asam, nggak niat
makan dech rasanya. Untuk menetralkan rasa di mulut, akhirnya saya memakan satu buah gogos, dan meminum satu botol air mineral (Aqua) berukuran tanggung saja seharga Rp. 4.000.
Sepanjang perjalanan, kami disuguhi oleh pemandangan yang masih hijau, yang tak kami temui di kota Makassar
Camba memang daerah yang sepi, jalan
raya Camba yang menghubungkan Maros dan Bone tidak terlihat dilintasi banyak
kendaraan. Rumah makan yang ada di tempat ini pun terlihat seadanya saja. Rumah
Makan camba 27 ini dikelola oleh keluarga Bugis yang sudah lama tinggal di
tempat ini. Mereka menuliskan ucapan “Selamat Menikmati. Atas Kunjunganta, Kami
Sekeluarga Mengucapkan Terima Kasih, Die!!!” di lembaran menu makan yang
tersedia di meja-meja. Para pengunjung rumah makan ini pun kebanyakan dari
pelintas antar kota yang kebetulan singgah. Sepanjang dataran Camba, rumah
makan sejenis bisa ditemukan dengan mudah. Rumah makan maupun keramaian
penduduk baru agak jarang di wilayah kelokan awal maupun akhir Camba, sesuah
Maros dan sebelum Bone. Masih 2 jam lagi sebelum kami mencapai Watangpone.
TMP15.A and B'ZHINK MOTOR COMMUNITY (PALOPO)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar