Ibu merupakan kata tersejuk
yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan
sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan
impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya.
Ibu adalah penegas kita dilaka lara,
impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air
cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.
Siapa pun yang kehilangan
ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang
dalam bahasa ibu.
Matahari sebagai ibu bumi
yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan
pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera
ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan
dan bebungaan.
Bumi menumbuhkan, menjaga
dan membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang
tulus memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi
semua wujud.Penuh cinta dan
kedamaian.
HINGGA hari ini aku masih belum
percaya ibu telah meninggal. Keluargaku memang belum pernah kehilangan. Kini
aku begitu merindukan ibu. Menyesal belum sempat membuat ibu bahagia.
Kehilangan itu membuatku begitu
hampa. Segalanya seolah menjadi tak berjiwa. Aku seakan tak mendengar bunyi apa
pun, Semua kenangan masa kecilku kuingat kembali. Ibu begitu cantik. Lembut,
meski keras dalam sikap. Aku bangga punya ibu seperti ibuku.
Memang kuakui aku tumbuh
dengan pikiranku sendiri dan sibuk dengan diriku sendiri. Mungkin ibu berpikir
aku seolah tidak peduli. Padahal dalam hati aku selalu sayang ibu. Selalu
mengingatnya. Kini ibu sudah tiada. Sudah benar-benar hilang dari keluarganya.
Lain sekali rasanya kematian itu.
Ada bentangan daun dan kembang. Juga bunga yang ditabur di makam. Entah mengapa
saat itu aku teringat sebuah kisah: lubang dalam lubang, yang tadinya aku belum
begitu mengerti maknanya. Tapi, menghadapi lubang kubur ibu, serta lubang yang
digali lagi dalam lubang kubur ibu, aku jadi benar-benar mengerti kisah itu:
lubang cahaya. Ya, kurasakan lubang ibu adalah lubang cahaya. Tempat di mana
seorang perempuan yang baik budi semasa hidupnya terkubur di sana. Wajahnya
terbenam dalam lubang itu, masuk ke dalam liang yang aku sendiri ikut menggali
dan menanam tanah penyangga tubuhnya. Aku juga membukakan tali-tali yang
mengikat kepala ibu, tubuh, dan kaki ibu. Kubuka ikatan-ikatan tali itu. Seolah
membuka ikatan masa lalu, di mana aku terbenam di dalamnya. Sejenak melintas
saat aku menghentak-hentakkan kaki, maju mundur meminta uang pada ibu di jalan.
Ibu marah dengan sayang. Wajahnya merajuk lalu tersenyum. Diraihnya tubuhku dan
diciumnya kepala dan mukaku. Anakku sayang,anakku sayang, kata ibu. Hanya
itulah yang keluar dari mulut ibu. Ia memandangi anaknya. Seolah Tuhan
memandangi dunia. Duh, perempuan yang baik hati, kini kau telah pergi. Telah
benar-benar meninggalkan kami.
Kini aku hanya memiliki seorang
ayah. Aku harap ayahku selalu sehat dan kuat. Tidak sakit-sakitan seperti ibu.
Aku sayang sekali denan ayahku. Ayahlah yang mendidikku dalam banyak hal.
Caranya mendidikku luar biasa: aku dibiarkannya melakukan apa saja yang aku
suka, tidak pernah melarang. Dulu aku memimpikan ayahku dua kali: ayah begitu
marah padaku dan meninggal dalam mimpiku. Aku begitu sedih sampai terbangun.
Tercekam dengan mimpiku. Masih tersisa wajah ayah yang marah. Aku tidak begitu
mengerti apa yang membuat ayah sangat marah. Tetapi lelaki tegas dan gagah itu
memandangku dengan raut membesi. Jiwaku menggigil melihatnya. Ayah, apa salahku
sampai kau marah begitu? Ini anakmu, yang sangat sedih karena bermimpi ayah
telah mati. Tapi ayah tetap diam. Wajahnya sukar dilukiskan: terpaku di
tempatnya, matanya seakan mengeluarkan api. Membakar tubuh dan jiwaku. Membuat
aku putus asa, sedih dan berduka. Ada apa Ayah? Mengapa kau demikian marah
padaku? Apakah salah anakmu ini?
Entah mengapa aku mengenang mimpi
itu,
SALAM HANGAT KU UNTUK MU IBU, DAN
BAPAK-KU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar